Biografi Ustadz Dzulqarnain Muhammad Sunusi

Biografi Syaikh Bilal bin Haidar Al-Zaghruri

Siapakah Al-Ustadz Dzulqarnain  Muhammad Sunusi hafizhahullah?

Biografi Ustadz Dzulqarnain Muhammad Sunusi

Nama lengkap beliau adalah Dzulqarnain Muhammad Sunusi. Beliau lahir di Kota Makassar pada tanggal 12 Agustus 1976.

Beliau menimba ilmu agama di beberapa ma’had di Pulau Jawa, kemudian melanjutkan ke Ma’had Darul Hadits, Dammaj—Yaman.

Guru-guru

Ustadz Dzulqarnain hafizhahullah adalah murid dari Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i rahimahullah—ulama besar Yaman yang terkenal dengan ketegasannya dalam sunnah dan keikhlasannya dalam dakwah tauhid.

Syaikh Muqbil sendiri adalah murid dari dua ulama besar dunia: Syaikh Al-Albani dan Syaikh Bin Baz rahimahumullah.

Al-Ustadz Dzulqarnain bin Muhammad Sunusi hafizhahullah adalah murid langsung dari dua ulama besar Ahlus Sunnah:

  • Syaikh Ahmad bin Yahya An-Najmi
  • Syaikh Zaid bin Muhammad Al-Madkhali rahimahumallah

Kedua ulama tersebut merupakan murid dari Syaikh Hafizh bin Ahmad Al-Hakami rahimahullah—penulis Kitab Mukhtashar Ma’arijul Qabul (Ringkasan Tangga-tangga Menuju Penerimaan).

Beliau telah menghafal Al-Qur’an di usia 12 tahun, dan pada usia 19 tahun, menulis manzhumah terkenal Al-Manzhūmah Al-Mīmiyyah (Seputar Wasiat dan Adab Ilmiah).

Salah satu guru utama Syaikh Al-Hakami adalah Syaikh Abdullah Al-Qar’awi rahimahullah—penulis kitab legendaris Al-Wājibāt Al-Mutaḥattimāt li Ma’rifati mā Yajibu ‘alā Kulli Muslim wa Muslimah (Penjelasan Tentang Kewajiban-kewajiban Utama yang Harus Diketahui Setiap Muslim dan Muslimah).

Setelah itu, beliau juga berkesempatan menimba ilmu dari para ulama di Kerajaan Saudi Arabia.

Aktivitas Dakwah

Aktivitas beliau saat ini adalah mengajar di Pondok Pesantren As-Sunnah Makassar, mengisi kajian di berbagai kota di Indonesia dan beberapa kota di luar negeri, menulis artikel-artikel dan buku, menjawab pertanyaan seputar permasalahan agama di beberapa media, serta membimbing jamaah haji dan umrah.

Karya tulis dan pemikiran beliau dapat disimak di web pribadi beliau, www.dzulqarnain.net, juga di beberapa akun media sosial beliau.

Karya Tulis

Beberapa karya tulis yang telah terbit:

  1. Meraih Kemuliaan Melalui Jihad Bukan Kenistaan,” buku bantahan untuk buku karya Imam Samudera “Mereka Adalah Teroris”. Diterbitkan ulang dengan judul “Antara Jihad dan Terorisme”.
  2. Renungan Bermakna Saat Musibah Melanda
  3. Keajaiban Lailatul Qadri
  4. Panduan Puasa Ramadhan
  5. Indahnya Sholat Malam
  6. Mendulang Pahala di Bulan Dzulhijjah
  7. Jerat-Jerat Dosa & Maksiat
  8. Menggapai Ampunan Allah
  9. Pedoman Syariat dalam Menilai Peristiwa (ISIS, AL-QAIDAH, BOKO HARAM, KUDETA, TERORISME, DLL).

Kesaksian

Mengenal Asy-Syaikh Dzulqarnain M. Sunusi hafizhahullah

Salah satu da’i Ahlus Sunnah asal Makassar yang Allah berikan banyak keutamaan kepadanya. Meski saya pribadi belum pernah berjumpa langsung dengan beliau, tidak juga menghadiri majelisnya.

Namun nama beliau cukup dikenal dan banyak pujian manis dari para penuntut ilmu yang dilontarkan untuk beliau.

Setiap kali saya mendengarkan ceramah beliau melalui rekaman, selalu mendapatkan faidah baru yang belum pernah didapatkan sebelumnya.

Di antara keutamaan yang Allah berikan kepada beliau:

  1. Murid dekat dua (2) Ulama Besar abad ini, Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i dan Asy-Syaikh Prof. DR. Shalih bin Fauzan Al-Fauzan.
  2. Hafal Al-Qur’an 30 juz dan memiliki sanad sampai ke Rasulullah shallallahu alayhi wasallam.
  3. Memiliki hafalan yang cukup kuat. Terlihat saat beliau menyampaikan dalil saat ceramah.
  4. Memiliki keilmuan dan pemahaman ilmiah yang cukup luas. Hal tersebut diakui oleh banyak penuntut ilmu.
  5. Saat belajar di Daarul Hadits (Dammaj Yaman), beliau termasuk murid yang memiliki majelis khusus bersama Syaikh Muqbil, serta memiliki kecerdasan di atas rata-rata.
  6. Memiliki sanad kitab ulama ahlussunnah sampai pada penulis kitab.

Semoga Allah selalu menjaga beliau dan memberikan keistiqomahan dalam menyampaikan kebenaran.

(Daarul Hadist Ma’rib, Yaman)

(Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Naayif Iqbal Al-Utaybi hafizhahullah di Darul Hadits Yaman)

(Diedit oleh Al-Akh Abu Umar Andri Maadsa)

Ustadz Dzulqarnain, yang telah dianggap sebagai anak oleh Al-‘Allāmah Syaikh Shalih bin Fauzan hafizhahumallāh

Dari kisah ini pula, secara pribadi ana baru mengetahui bahwa Al-‘Allāmah Prof. Dr. Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan hafizhahullāh belum dikaruniai seorang anak, sehingga beliau pun menganggap Ustadz Dzulqarnain sebagai anaknya.

Māsyā’ Allāh. Alhamdulillāh, saya tidak meragukan keilmuan beliau. Bukan karena taklid buta, namun karena beliau memang dipuji oleh para gurunya atas hafalan dan semangatnya dalam menuntut ilmu.

Hal ini dikisahkan kepada saya oleh saudara ipar beliau, khususnya pada masa awal beliau belajar, yang juga diceritakan oleh istrinya.

Pada masa sebelum saya menikah, Ustadz menetap selama enam bulan di Indonesia dan enam bulan di Arab Saudi. Ketika ke Saudi, saya menemani istrinya.

Istri beliau banyak bercerita tentang semangat beliau dalam menuntut ilmu. Ia mengatakan bahwa:

Ilmu itu seperti kolam: jika dikuras, maka harus diisi kembali. Setelah ditelaah, ditelaah lagi; dipelajari terus-menerus dan dihafalkan.

Ketika berada di rumah, beliau lebih banyak menghabiskan waktu di maktabah, menulis dan menghafal.

Benarlah bahwa seseorang yang telah merasakan lezatnya ilmu akan selalu merasa ilmunya masih kurang, merasa rendah dan terus membutuhkan ilmu.

Ustadz benar-benar haus akan ilmu dan senantiasa merasa belum cukup dengan apa yang telah dimilikinya.

Tidak lama lagi Ustadz akan berangkat belajar lagi,” kata istrinya.

Masya Allāh, tidak lama kemudian beliau kembali berangkat ke Saudi.

Hingga saya sempat berkata, “Banyak sekali biaya pulang-pergi Ustadz. Kalau kita, mungkin hanya Makassar ke kota lain.

Namun Masya Allāh, beliau sering ke Saudi semata-mata untuk belajar kepada para ulama. Istri beliau berkata, “Alhamdulillāh, selalu ada saja rezeki, Dek.

Kesabaran istri beliau dalam mendampingi Ustadz sungguh luar biasa, rela banyak waktunya tersita demi mendukung beliau dalam menuntut ilmu.

Karena itulah Ustadz sangat menyayangi istrinya, sebab kesabarannya dan dukungannya dalam perjalanan ilmu beliau.

Semoga kita, khususnya para istri—terlebih istri seorang ustadz—diberi kesabaran, sehingga turut mendapatkan pahala dalam perjuangan menuntut ilmu sang suami.

Masya Allāh, memang Ustadz sangat bersemangat dalam belajar, menghafal, menulis, menelaah, dan mengajar.

Pernah istrinya berkata kepada ana, “Ini istri kedua Ustadz.”

Ana sempat heran, lalu beliau tersenyum dan menjelaskan bahwa istri pertama Ustadz adalah ilmu.

Sebab di rumah, beliau lebih banyak berada di maktabah. Namun demikian, beliau tidak melupakan istrinya. Bahkan beliau mengajarkan kitab khusus kepadanya.

Masya Allāh, meskipun sibuk menuntut dan mengajarkan ilmu, beliau tetap meluangkan waktu mengajarkan ilmu secara khusus kepada istrinya, juga kepada anak-anaknya.

Karena semangat beliau menuntut ilmu kepada para ulama di Saudi—yang sering membuat beliau harus meninggalkan keluarga—akhirnya istri dan anak-anak beliau dibawa ke Saudi dan tinggal di rumah Al-‘Allāmah Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan.

Syaikh Shalih Al Fauzan tidak memiliki anak, sehingga menganggap Ustadz dan istrinya sebagai anak, serta menyayangi anak-anak Ustadz sebagaimana cucu-cucu beliau sendiri.

Dengan tinggal di sana, istri Ustadz pun banyak belajar dan menuntut ilmu kepada para syaikhah.

Kesabaran Syaikhah dalam mendampingi Syaikh, meskipun tidak memiliki anak, menjadi teladan tersendiri.

Selama di sana, Ustadz tidak melalaikan pendidikan keluarganya. Selain istrinya belajar, anak-anak beliau juga bersekolah di sana.

Dengan demikian, Ustadz memiliki banyak waktu untuk belajar langsung bersama Asy-Syaikh Shalih Al Fauzan hafizhahullāh, bahkan menjadi sopir pribadi beliau.

Ke mana pun Syaikh pergi, Ustadz turut mendampingi.

Masya Allāh, begitu banyak waktu yang dimanfaatkan untuk mengambil ilmu langsung dari Syaikh Shalih Al Fauzan hafizhahullāh.

Sangat disayangkan, masih ada pihak-pihak yang membenci beliau. Padahal dalam setiap keadaan, beliau senantiasa meminta pendapat, nasihat, dan arahan dari Syaikh yang mulia tersebut.

Beliau bersabar menghadapi berbagai fitnah. Nasihat Syaikh kepada beliau adalah agar tetap bersabar, karena ilmu dan amalnya merupakan tazkiyah bagi dirinya.

Bārakallāhu fīh.

Semoga bermanfaat.

(Dikisahkan oleh Al-Ukh Nurul Rahmah hafizhahallāh)

(Diedit oleh Al-Akh Abu Umar Andri Maadsa dan disesuaikan kembali oleh Tim Editor Markaz Ilmu)

Sumber: Grup Facebook

 

0 Shares:
Leave a Reply
You May Also Like