Ulama dan Umara Tonggak Kejayaan Umat

Featured image blog 20260131 135835 0000

Tabligh Akbar Sulselbar XIX yang diselenggarakan di Kabupaten Sinjai mengangkat tema Ulama dan Umara Tonggak Kejayaan Umat, yang berisi faedah dari Syaikh Anis bin Shalih al-Yafi‘i al-Muhandis hafizhahullāh, dan dilaksanakan pada Sabtu, 7 Rajab 1447 H / 27 Desember 2026.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَطِيعُوا۟ ٱللَّهَ وَأَطِيعُوا۟ ٱلرَّسُولَ وَأُو۟لِى ٱلْأَمْرِ مِنكُمْ

Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah, taatilah Rasul, dan ulil amri di antara kalian.” (QS. an-Nisa: 59)

Al-‘Allāmah Ibnul Qayyim raḥimahullāh berpendapat dan menguatkan bahwa yang dimaksud dengan ulil amri dalam ayat yang mulia ini adalah para penguasa (umara’) dan para ulama. Mereka semuanya termasuk ulil amri.

Wajib bagi umat, apabila menginginkan kebaikan dan perbaikan, untuk menaati mereka sebagaimana menaati Allah subḥānahū wa ta‘ālā dan menaati Rasul-Nya. Demikian pula menaati para ulil amri.

Ayat ini mengandung kebaikan dan perbaikan bagi negeri dan hamba-hamba.

Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah, taatilah Rasul, dan ulil amri di antara kalian,” yakni para ulama dan para penguasa. Maka wajib untuk mengagungkan mereka.

Sesungguhnya umat ini, apabila tidak mengagungkan para penguasa dan tidak mengagungkan para ulama, niscaya akan tertimpa kerusakan.

Ibnu al-Mubārak raḥimahullāh berkata:

Barang siapa berbicara buruk tentang para ulama, maka hilanglah agamanya. Barang siapa berbicara buruk tentang para penguasa, maka hilanglah dunianya. Dan barang siapa berbicara buruk tentang saudara-saudaranya, maka hilanglah kehormatannya.”

Maka golongan para ulama ini, wajib bagi umat—jika menghendaki kebaikan dan perbaikan—untuk mengagungkan para ulama, mengagungkan orang-orang yang telah Allah subḥānahū wa ta‘ālā agungkan, dan menjadikan mereka mulia. Karena para ulama berada pada kedudukan yang tinggi.

Allah jalla wa ‘alā berfirman:

يَرْفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ دَرَجَٰتٍ

Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. al-Mujadalah: 11)


Ada dua perkara yang sangat agung, yaitu:

  • menunaikan hak Allah jalla wa ‘alā dan
  • menunaikan hak-hak kepada para pemiliknya.

Inilah yang disebut kesalehan (ash-shalāḥ).

Sebagaimana disebutkan oleh al-Manāwī raḥimahullāh, orang yang saleh adalah orang yang menunaikan hak Allah ‘azza wa jalla dan menunaikan hak-hak hamba.

Orang-orang yang memerintahkan manusia untuk menunaikan dua hak ini adalah para ulama. Mereka mengarahkan manusia kepada tauhid kepada Allah jalla wa ‘alā, kepada ketaatan kepada Allah subḥānahū wa ta‘ālā, kepada ibadah kepada-Nya, dan kepada kebajikan.

Mereka juga mengarahkan manusia untuk menunaikan hak-hak, seperti hak orang tua atas anak, hak suami atas istri, dan hak istri atas suami.

Yang memerintahkan hal tersebut adalah para ulama. Maka merekalah para pembaharu (mushliḥūn) yang sejati, yang benar-benar dan dengan jujur berusaha melakukan perbaikan. Demikian pula para ulil amri dari kalangan para penguasa.

Telah datang dari ‘Utsmān radhiyallāhu ‘anhu perkataannya:

Sesungguhnya Allah menahan (kejahatan) dengan kekuasaan apa yang tidak Dia tahan dengan Al-Qur’an.

Dan dikatakan pula: “Orang yang tidak terpengaruh oleh tulisan, akan terpengaruh oleh pasukan.”

Maka para ulama adalah para pembaharu. Mereka ingin mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya: dari kegelapan syirik menuju cahaya tauhid, dari kegelapan bid‘ah menuju cahaya sunnah, dari kegelapan maksiat menuju cahaya ketaatan, serta dari kegelapan kezaliman menuju cahaya keadilan dan kejujuran.

Peran para ulama dalam memperbaiki umat adalah peran yang sangat besar. Oleh karena itu, siapa yang mendekat kepada para ulama akan mendapatkan kebaikan dan perbaikan dengan izin Allah.

Siapa yang duduk bersama para ulama, akan mendapatkan kebaikan.

Ibnu ‘Abdil Barr raḥimahullāh meriwayatkan dalam kitab Jāmi‘ Bayān al-‘Ilm wa Faḍlih, dari Maimūn bin Mihrān raḥimahullāh, ia berkata:

Aku mendapati kebaikan hatiku dalam duduk bersama para ulama.”

Apa lagi yang diinginkan seorang hamba setelah ini? Adakah sesuatu yang lebih agung daripada baiknya hati ?

Baiknya hati—setelah karunia Allah—tidak didapatkan kecuali melalui para ulama. Orang ini berkata: “Aku mendapati kebaikan hatiku dalam duduk bersama para ulama.”

Maka nasihat kami kepada manusia adalah agar mendekat kepada para ulama, ulama kebenaran, ulama Ahlus Sunnah wal Jama‘ah.

Engkau tidak akan mendapatkan kecuali kebaikan: jika engkau bodoh, mereka akan mengajarimu; jika engkau lalai, mereka akan mengingatkanmu.

Engkau tidak akan mendengar kecuali: “Allah berfirman… Rasul-Nya bersabda… para sahabat radhiyallāhu ‘anhum berkata.”

Inilah majelis-majelis mereka.

Oleh karena itu, Sahl bin ‘Abdillah at-Tustarī raḥimahullāh berkata:

Barang siapa ingin melihat majelis-majelis para nabi, maka hendaklah ia melihat majelis-majelis para ulama.

Allāhu Akbar. Barang siapa ingin mengetahui bagaimana majelis para Nabi ﷺ, maka lihatlah majelis para ulama: majelis yang berisi kesalehan, perbaikan, keberuntungan, dan kesuksesan.


Sungguh, Allah, para malaikat-Nya, penduduk langit dan penduduk bumi, bahkan semut di dalam lubangnya dan ikan di laut, semuanya bershalawat kepada orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia.

Wahai saudaraku seiman, pernahkah engkau bertanya kepada dirimu sendiri: mengapa keutamaan ini begitu besar?

Allah jalla wa ‘alā, penduduk alam atas, penduduk alam bawah, ikan-ikan di laut, bahkan semut di dalam lubangnya, semuanya bershalawat kepada orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia. Mengapa keutamaan ini begitu agung?

Hal itu karena pengaruh seorang alim dalam melakukan perbaikan (islah) sangatlah besar.

Sebagaimana dikatakan oleh Imam Ahmad raḥimahullāh:

Betapa baik pengaruh mereka (para ulama) terhadap manusia.”

Dan Ibnu al-Mubārak raḥimahullāh berkata tentang para ulama:

Aku tidak mengetahui suatu kedudukan setelah kenabian yang lebih utama daripada menyebarkan ilmu.”

Ilmu adalah cahaya, dan menyebarkan ilmu adalah perbaikan. Ia berkata lagi:

Aku tidak mengetahui setelah derajat kenabian, kedudukan yang lebih tinggi daripada menyebarkan ilmu.”

Para ulama adalah pewaris para nabi, dan mereka menempati kedudukan para nabi dalam menyeru kepada perbaikan. Sebagaimana firman Allah:

Aku tidak menghendaki kecuali perbaikan semampuku.”

Mereka menyeru kepada perbaikan: perbaikan individu, perbaikan masyarakat, dan perbaikan umat.

Betapa banyak seorang alim yang tidak memiliki harta yang banyak dan tidak pula memiliki banyak penolong, namun Allah membuka melalui tangannya pintu perbaikan umat yang sangat besar.

Adz-Dzahabi raḥimahullāh menyebutkan bahwa negeri Andalusia dahulu tidak memiliki ilmu hadis, yang ada hanyalah ilmu fikih. Beliau berkata bahwa dengan perjalanan ilmiah Baqī bin Makhlad dan Muhammad bin Waḍḍāḥ, negeri Andalusia berubah menjadi negeri hadis.

Andalusia menjadi pusat hadis hanya dengan perjalanan dua orang ulama tersebut. Sebuah wilayah yang tersebar di dalamnya ilmu hadis: “telah menceritakan kepada kami… telah mengabarkan kepada kami…” dengan sanad-sanad yang bersambung kepada Nabi ﷺ.

Sebagai contoh pula, di negeri kami, Yaman, dahulu yang tersebar adalah Tasawuf dan Syiah.

Kemudian datang Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wādi‘i raḥimahullāh, dan Allah mengalirkan kebaikan yang besar melalui tangannya.

Ia hanyalah seorang diri, namun Allah memberikan manfaat yang sangat besar melalui dirinya: dalam mentauhidkan Allah ‘azza wa jalla, meninggalkan penyembahan kubur dan bangunan-bangunan keramat, berpegang teguh pada sunnah, serta meninggalkan bid‘ah dan hawa nafsu.

Allah memberikan manfaat yang besar melalui dirinya, hingga kebaikan ulama ini sampai keluar dari Yaman, sampai ke negeri ini dan ke negeri-negeri lainnya.

Semua itu adalah buah dari perbaikan para ulama.

Karena para ulama tidak mengajak manusia kepada dunia, tetapi mereka mengajak manusia kepada tauhid kepada Allah dan mengikuti Rasulullah ﷺ. Inilah dakwah mereka: mengajak manusia kepada tauhid dan mengikuti Rasulullah ﷺ.

Sebagaimana telah disebutkan, mereka juga mengajak manusia untuk menunaikan hak Allah jalla wa ‘alā dan menunaikan hak-hak sesama hamba. Maka dakwah mereka adalah dakwah perbaikan.

Siapa yang menerimanya akan mendapatkan manfaat, terangkat derajatnya, dan memperoleh kebaikan.

Dan siapa yang menolaknya, sungguh ia telah menolak dakwah yang benar, karena para ulama adalah pewaris para nabi.

Dan para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, tetapi mereka mewariskan ilmu.


Manusia berada dalam kegelapan, kecuali dengan cahaya Islam. Sebagaimana Allah subḥānahū wa ta‘ālā berfirman:

كِتَٰبٌ أَنزَلْنَٰهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ ٱلنَّاسَ مِنَ ٱلظُّلُمَٰتِ إِلَى ٱلنُّورِ

(Ini adalah) sebuah Kitab yang Kami turunkan kepadamu agar engkau mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya.” (QS. Ibrahim: 1)

Dan para ulama adalah orang-orang yang membawa cahaya tersebut. Oleh karena itu, Ibnu ‘Abdil Barr raḥimahullāh meriwayatkan dalam kitab Jāmi‘ Bayān al-‘Ilm wa Faḍlih dari al-Hasan al-Bashri raḥimahullāh, beliau berkata:

Dunia ini gelap, kecuali majelis-majelis para ulama.”

Dunia itu gelap—kegelapan maknawi, yang lebih berat daripada kegelapan inderawi: kegelapan jalan, kegelapan udara, dan kegelapan dosa. Dunia ini gelap, kecuali majelis-majelis para ulama.

Maka para ulama adalah para pembaharu yang sejati. Mereka adalah cahaya bagi manusia, negeri, dan para hamba: membedakan antara yang hak dan yang batil, menjelaskan jalan yang benar.

Mereka disebut cahaya karena membawa Al-Qur’an, yang merupakan cahaya.

Sebagaimana Allah subḥānahū wa ta‘ālā berfirman:

وَكَذَٰلِكَ أَوْحَيْنَآ إِلَيْكَ رُوحًا مِّنْ أَمْرِنَا ۚ مَا كُنتَ تَدْرِى مَا ٱلْكِتَٰبُ وَلَا ٱلْإِيمَٰنُ وَلَٰكِن جَعَلْنَٰهُ نُورًا نَّهْدِى بِهِۦ مَن نَّشَآءُ مِنْ عِبَادِنَا

Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu ruh dari perintah Kami. Sebelumnya engkau tidak mengetahui apa itu Kitab dan apa itu iman, tetapi Kami menjadikannya sebagai cahaya yang dengannya Kami memberi petunjuk siapa saja yang Kami kehendaki dari hamba-hamba Kami.” (QS. asy-Syura: 52)

Wahai hamba-hamba Allah, inilah peran para ulama—peran yang sangat besar dalam melakukan perbaikan. Tidak ada seorang pun yang mampu menandingi para ulama dalam memperbaiki umat.

Dan kebaikan umat bergantung pada apa yang dipegang oleh para ulama dan apa yang dipegang oleh para salaf.

Imam Malik raḥimahullāh berkata:

Tidak akan baik generasi akhir umat ini kecuali dengan apa yang telah memperbaiki generasi awalnya.”

Apabila umat menginginkan kebaikan, maka hendaknya dengan menaati para ulama, mengagungkan para ulama, memuliakan para ulama, serta mengambil arahan dan nasihat para ulama—baik untuk masyarakat dan rakyat, maupun bahkan untuk para penguasa.

Karena para ulama termasuk ulil amri. Mereka menasihati para penguasa, dan dengan itulah akan terwujud persatuan, kesatuan kata, kesatuan barisan, dan tertutupnya perpecahan.

Para ulama berada di atas kebaikan yang besar, para penguasa pun mengambil nasihat para ulama, dan rakyat serta masyarakat mengagungkan para ulama dan para penguasa. Dengan hal itu akan terwujud kebaikan dunia dan akhirat.

Sebagaimana yang dikatakan al-Hasan al-Bashri raḥimahullāh:

Dunia ini gelap, kecuali majelis-majelis para ulama.”


Apabila umat kembali kepada para ulama, maka akan terwujud kebaikan umat melalui para ulama. Kebaikan umat terletak pada kembali kepada para ulama, terlebih pada masa fitnah dan berbagai peristiwa besar (nawāzil).

Karena para ulama mengetahui fitnah ketika fitnah itu sedang datang, sedangkan orang-orang bodoh baru mengetahui fitnah setelah fitnah itu berlalu.

Maka kebaikan umat terwujud dengan kembali kepada para ulama dan mengambil fatwa dari para ulama, bukan dari para pendusta dan orang-orang yang mengaku-ngaku.

Dalam hadis disebutkan:

Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan cara mencabutnya langsung dari dada para ulama, tetapi Allah mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama. Hingga apabila tidak tersisa seorang alim pun, manusia mengangkat pemimpin-pemimpin yang bodoh. Mereka pun berfatwa tanpa ilmu, sehingga mereka sesat dalam diri mereka sendiri dan menjadi sebab kesesatan orang lain.”

Mereka itulah para pengaku-pengaku (ad‘iyā’) yang bukan ulama. Adapun para ulama sejati, mereka selamat dalam diri mereka sendiri dan menyelamatkan manusia dari fitnah.

Namun apabila terjadi kembali kepada para ulama, maka akan terlaksana firman Allah:

فَسْـَٔلُوٓا۟ أَهْلَ ٱلذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Maka bertanyalah kepada ahlul dzikir jika kalian tidak mengetahui.” (QS. an-Nahl: 43)

Dan apabila ada ketaatan kepada para ulama, maka akan terwujud kebaikan. Pernah dikatakan kepada Bani ‘Abs, salah satu kabilah Arab:

Betapa banyak kebenaran yang kalian dapatkan (betapa sering keputusan kalian tepat).”

Mereka menjawab:

Di tengah kami ada seorang yang bijaksana, maka kami menaatinya. Seakan-akan kami memiliki seribu orang bijaksana.”

Di tengah mereka hanya ada satu orang yang memiliki ketegasan dan kecerdasan, lalu mereka menaatinya, maka seolah-olah di tengah mereka ada seribu orang yang bijaksana.

Demikianlah perbaikan oleh para ulama. Ia hanya terwujud dengan kembali kepada mereka dan menaati mereka. Dengan itu akan terwujud perbaikan bagi umat, terlebih pada masa fitnah. Dan para ulama adalah katup pengaman (penjaga keselamatan) bagi masyarakat.


Penduduk sebuah kota akan mati karena dahaga yang sangat, dan kematian ini adalah kematian jasad. Demikian pula sebuah kota atau negeri yang tidak memiliki ulama, maka penduduknya akan mati karena dahaga kebodohan. Ini adalah kematian hati, dan kematian hati lebih berat daripada kematian jasad.

Oleh karena itu, Maimūn bin Mihrān raḥimahullāh berkata:

Perumpamaan seorang alim di sebuah negeri adalah seperti mata air tawar untuk diminum oleh negeri tersebut.”

Demikianlah perumpamaan seorang alim. Kehidupan terwujud dengan meminum air tersebut—yaitu air ilmu—sebagaimana kehidupan jasad terwujud dengan meminum air biasa. Yang satu adalah kehidupan bagi jasad, dan yang lainnya adalah kehidupan bagi hati.

Wahai hamba-hamba Allah, peran para ulama dalam kehidupan ini sangatlah besar, peran yang sangat besar dalam melakukan perbaikan.

Mereka memerintahkan kepada kebaikan, melarang dari kemungkaran, dan mengajak kepada segala yang baik. Semua ini adalah makanan bagi ruh-ruh.

Nabi ﷺ dalam Shahihain, dari hadis Abu Musa al-Asy‘ari radhiyallāhu ‘anhu, bersabda:

Perumpamaan petunjuk dan ilmu yang Allah utus aku dengannya adalah seperti hujan yang sangat lebat.”

Kemudian beliau menyebutkan:

Di antaranya ada tanah yang baik, yang menerima air lalu menumbuhkan rerumputan dan tanaman yang banyak. Di antaranya ada tanah yang menahan air, lalu manusia mengambil manfaat darinya: mereka minum dan bercocok tanam.”

Inilah keadaan para ulama, terutama mereka yang menghimpun ilmu tentang Allah dan ilmu tentang perintah Allah.

Inilah derajat yang agung bagi para ulama: ilmu tentang Allah dan ilmu tentang perintah Allah.

Dan apabila disebut Ulama, maka yang dimaksud adalah mereka yang berada di atas jalan yang lurus dan manhaj yang benar.

Sebuah kota yang tidak memiliki air akan binasa. Demikian pula sebuah kota yang tidak memiliki ulama, akan binasa karena kebodohan—wal‘iyādzu billāh.


Umat ini memiliki tingkatan dan derajat, dan para ulama berada pada derajat yang paling tinggi, yaitu derajat tertinggi dalam memperbaiki umat. Derajat tertinggi para pembaharu umat adalah para ulama.

Abu al-Aswad ad-Du’alī raḥimahullāh berkata:

Para raja adalah penguasa atas manusia, sedangkan para ulama adalah penguasa atas para raja.”

Para raja memerintah manusia, dan para ulama memerintah para penguasa. Maka para ulama berada pada kedudukan yang paling tinggi. Ini adalah pengangkatan dari Allah ‘azza wa jalla.

Pengaruh para ulama dalam memperbaiki umat sangatlah besar.

Ad-Dārimī raḥimahullāh meriwayatkan dari az-Zuhrī raḥimahullāh, ia berkata:

Kami mendapati para ulama berkata: berpegang teguh kepada sunnah adalah keselamatan. Ilmu akan dicabut dengan pencabutan yang cepat. Dan dengan diangkatnya ilmu, tegaknya urusan dunia dan agama akan goyah.

Menjaga ilmu, mengangkat ilmu, dan memuliakan ilmu, semua ini dilakukan oleh para ulama. Ini adalah jihad yang agung, yang tidak mampu dilakukan kecuali oleh para ulama. Dengan diangkatnya ilmu, tegak dan stabil urusan dunia dan agama.

Maka kebaikan para ulama tidak terbatas pada urusan agama saja, tetapi juga mencakup urusan dunia.

Oleh karena itu, perhatikanlah hadis yang telah disebutkan sebelumnya:

Bahkan ikan-ikan di laut dan semut di dalam lubangnya mendoakan mereka. Karena mereka mengetahui bahwa manfaat seorang alim sangatlah besar.

Allah ‘azza wa jalla menjadikan manfaat para ulama sangat besar, baik dalam urusan agama maupun urusan dunia.

Manusia memiliki peran masing-masing dalam melakukan perbaikan; setiap orang berusaha memperbaiki umat sesuai kemampuannya dan berada pada tingkatannya masing-masing.

Namun tingkatan yang paling tinggi dan paling mulia adalah tingkatan para ulama.


Dan para ulama itu menghimpun antara ilmu dan kasih sayang, karena mereka adalah pewaris para nabi. Allah jalla wa ‘alā berfirman:

وَمَآ أَرْسَلْنَٰكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَٰلَمِينَ

Dan tidaklah Kami mengutus engkau (wahai Muhammad) melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.” (QS. al-Anbiya: 107)

Maka para ulama berada pada kedudukan seperti para ayah. Mereka menghimpun antara ilmu dan kasih sayang. Dan setiap kali seorang alim bertambah ilmunya, maka bertambah pula kasih sayangnya.

Orang yang paling berilmu dari umat ini setelah Nabi ﷺ adalah Abu Bakar radhiyallāhu ‘anhu, dan dialah orang yang paling penyayang terhadap umat ini.

Maka para ulama itu laksana para ayah. Mereka menggabungkan antara ilmu dan rahmat, dan kebapakan secara agama lebih agung daripada kebapakan secara jasmani.

Oleh karena itu, para ulama memiliki nasihat yang tulus kepada manusia dan kecintaan kepada umat, karena mereka adalah para ayah (dalam agama). Yang dituntut darimu adalah mendekat kepada para ulama.

Karena itulah Luqman al-Hakim menasihati putranya dengan berkata:

Wahai anakku, duduklah bersama para ulama dan rapatkanlah lututmu kepada mereka. Sesungguhnya Allah menghidupkan hati-hati yang mati dengan hikmah, sebagaimana Dia menghidupkan bumi dengan hujan dari langit.”

Oleh karena itu, majelis-majelis para ulama adalah majelis kebaikan, yang di dalamnya diharapkan turunnya rahmat dan tersebarnya hikmah.

Ibnul Mas‘ūd radhiyallāhu ‘anhu berkata: “Sebaik-baik majelis adalah majelis yang diharapkan padanya rahmat dan disebarkan di dalamnya hikmah.”

Demikianlah majelis-majelis para ulama. Para ulama bagi kita laksana para ayah, sedangkan para ayah berusaha siang dan malam dalam mendidik dan memperbaiki anak-anaknya.

Bahkan para ulama lebih agung lagi, karena mereka menggabungkan antara kebapakan, ilmu, dan rahmat yang lahir dari ilmu.

Maka peran para ulama dalam memperbaiki umat sangatlah besar, bahkan melebihi peran para ayah. Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, tidak ada derajat yang lebih tinggi daripada derajat para ulama.


Ini adalah tema yang sangat agung, yaitu kebaikan umat terwujud melalui para ulama. Kebaikan para ulama itu menyeluruh dan sangat besar, tidak terbatas pada diri mereka sendiri.

Seorang ahli ibadah berada dalam kebaikan, namun kebaikannya terbatas pada dirinya, berbeda dengan seorang ‘alim. Oleh karena itu, dalam hadis disebutkan:

Keutamaan seorang alim dibandingkan seorang ahli ibadah adalah seperti keutamaan bulan purnama dibandingkan seluruh bintang.

Keutamaan para ulama sangatlah besar. Mereka adalah bintang-bintang langit, mereka adalah para ayah bagi kita, mereka adalah para pembaharu yang sejati.

Mereka laksana bulan purnama yang manusia mendapatkan cahaya darinya.

Mereka adalah pelindung dan katup pengaman dari fitnah, mereka adalah pendidik generasi dan para pahlawan.

Dan masih banyak lagi pengaruh baik dan manfaat yang sangat besar, yang merupakan buah dari keberadaan para ulama bagi umat. Keutamaan mereka sangatlah agung. Apa yang disebutkan ini hanyalah sebagian kecil saja.

 

Catatan Seseorang hafizhahullāh.


Selalu Semangat & Optimis.

Diedit oleh Al-Ustadz Abu Umar Andri Maadsa hafizhahullāh.

0 Shares: