Faedah Safar Basecamp Markaz Ilmu Depok, Ahad siang, 22 Februari 2026 / 4 Ramadhan 1447 H
Oleh: Ustadz Abu Umar Andri Maadsa hafizhahullah
_______________
Barang siapa bersyukur kepada Allah, pada hakikatnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri.
Allah Ta‘ala berfirman:
وَمَنْ شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ
“Dan barang siapa bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barang siapa kufur, maka sesungguhnya Rabbku Mahakaya lagi Mahamulia.” (QS. An-Naml: 40)
Siapa yang paling mengenal Allah, dialah orang yang paling mengenal kadar dirinya.
Maka marilah kita berusaha mengenal Allah dengan benar, karena dengan mengenal-Nya kita akan mengetahui hakikat kelemahan, kefakiran, dan kehinaan diri kita di hadapan Rabb kita.
Orang yang paling berhak masuk surga adalah mereka yang paling mengenal Allah: Nabi Muhammad ﷺ, para nabi ‘alaihimush shalātu was salām, para sahabat, dan orang-orang saleh.
Adapun kita, hendaknya meneladani jalan mereka.
Sebaliknya, orang yang paling berhak masuk neraka adalah mereka yang paling tidak mengenal Allah, yaitu yang tidak mengetahui kedudukannya di hadapan-Nya. Mereka adalah orang-orang kafir, munafik dan musyrik.
Faedah ayat ini bukan hanya tentang kesyukuran, tetapi juga tentang tauhid.
Mengenal kadar diri adalah kunci segala kebaikan. Jika kita mengenal kadar diri kita, maka kita tidak akan sombong, tidak akan merasa cukup dengan amal, dan tidak akan meremehkan dosa.
Orang yang paling bahagia dan selamat adalah orang yang menyadari kebodohan dan ketidakberdayaan dirinya. Maka kita pun harus jujur mengakui bahwa kita lemah, penuh kekurangan, dan sangat bergantung kepada Allah yang Mahasempurna, Mahakaya, dan Mahakuasa.
Ketika kita berdoa, kita dianjurkan bertawasul dengan nama-nama Allah, dengan amal saleh; yang paling utama adalah tauhid, disertai pengakuan akan kefakiran dan kerendahan diri kita di hadapan-Nya.
Doa Kunci Ijabah dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu
Bahwa Nabi ﷺ mendengar seorang lelaki berdoa,
اللَّهمَّ إنِّي أسألُكَ بأنَّ لَكَ الحمدُ لا إلَهَ إلَّا أنتَ المنَّانُ بديعُ السَّمواتِ والأرضِ يا ذا الجلالِ والإِكرامِ يا حيُّ يا قيُّومُ
“Ya Allah, sungguh aku memohon kepada-Mu karena segala pujian adalah milik-Mu, tidak ada ilah selain Engkau, Yang Maha Memberi karunia (Al-Mannan), Pencipta langit dan bumi, Wahai Zat yang memiliki keagungan dan kemuliaan, Wahai Yang Mahahidup dan Maha Berdiri.”
Maka Nabi ﷺ bersabda,
لقد دعا اللَّهَ باسمِهِ العظيمِ الَّذي إذا دعيَ بِهِ أجابَ وإذا سئلَ بِهِ أعطى
“Sungguh, ia telah berdoa kepada Allah dengan nama-Nya yang agung. Jika dimohon dengan (menyebut) nama itu, Dia akan mengabulkan, dan jika diminta dengan (menyebut) nama itu, Dia akan memberi.”
(HR. Ahmad, 5:349 dan Abu Dawud no. 1495)
Doa Kunci Ijabah dari Buraidah Al-Aslami radhiyallahu ‘anhu
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِأَنِّي أَشْهَدُ أَنَّكَ أَنْتَ اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ الأَحَدُ الصَّمَدُ الَّذِي لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ
“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu atas dasar persaksian bahwa Engkau adalah Allah. Tiada yang berhak disembah kecuali Engkau. Yang Maha Tunggal, Yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu, Yang tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, serta Yang tiada sesuatu yang setara dengan-Nya.”
(HR. Abu Daud, Tirmidzi & Ahmad)
Doa ijabah yang dikenal dari Arab Badui merupakan salah satu bentuk pengenalan kepada Allah, karena di dalamnya terkandung nama-nama Allah yang agung dan indah.
Seorang sahabat dari kalangan Badui saja mampu menunjukkan kedalaman pengenalan kepada Allah. Apalagi sahabat besar seperti Abu Bakar dan Umar radhiyallāhu ‘anhumā.
Maka bagaimana dengan kita?
Dengan mengenal kadar diri, kita akan menjadi orang yang paling bersemangat memperbaiki diri.
Kita sadar bahwa diri kita masih bodoh dan zalim, sehingga kita terdorong untuk berguru dan menuntut ilmu.
Karena itu, orang-orang terbaik di dunia adalah para penuntut ilmu. Hendaknya kita menjadikan diri kita bagian dari mereka.
Jika ditanya, “Apa pekerjaanmu?” maka jawablah, “Saya adalah penuntut ilmu; adapun pekerjaan atau usaha hanyalah sampingan.”
Apabila menuntut ilmu dianggap ‘sisa’ dalam hidup kita, maka hasilnya pun akan menjadi ‘sisa’.
Siapa pun kita dan apa pun profesi kita, hendaknya kita selalu berada di atas ilmu. Ilmu yang mengiringi dan menghiasi kehidupan kita, karena cita-cita kita adalah akhirat.
Hari-hari kita akan terasa lebih bahagia dan urusan dunia kita akan dipermudah apabila tujuan hidup kita adalah akhirat.
Muhammad bin Ka‘b Al-Qurazhi rahimahullah, seorang ulama tabi‘in dan ahli tafsir dari Madinah—yang perkataannya dinukil para ulama dalam kitab-kitab zuhud—menyebutkan tiga kebaikan besar.
3 Tanda Allah Menghendaki Kebaikan Padamu
عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ كَعْبٍ الْقُرَظِيِّ رَحِمَهُ اللَّهُ قَالَ:
«إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدٍ خَيْرًا ، جَعَلَ فِيهِ ثَلاَثَ خِصَالٍ : فِقْهًا فِي الدِّينِ ، وَزَهَادَةً فِي الدُّنْيَا ، وَبَصَرًا بِعُيُوبِهِ».
الزهد لابن المبارك (282).
Dari Muhammad bin Ka‘b Al-Qurazhi rahimahullah, beliau berkata:
“Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, Dia akan menjadikan pada dirinya tiga perkara:
1. Pemahaman dalam agama,
2. Sikap zuhud terhadap dunia, dan
3. Kemampuan melihat aib dirinya sendiri.”
(Diriwayatkan oleh Abdullah ibn al-Mubarak dalam kitab Az-Zuhud, no. 282)
Maka marilah kita memohon kepada Allah agar diberi tiga kebaikan ini.
_______________
Ketika terjadi gempa dahsyat di Palu, kami pernah dikumpulkan oleh Ustadz Khaidir M. Sunusi hafizhahullah.
Beliau menjelaskan ayat ini (QS. An-Naml: 40) dan menguatkannya dengan firman Allah,
فَٱعْلَمْ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ وَٱسْتَغْفِرْ لِذَنۢبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَٱلْمُؤْمِنَٰتِ ۗ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَىٰكُمْ
“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, tuhan) yang berhak disembah kecuali hanya Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal.” (QS. Muhammad: 19)
Kedua ayat tersebut saling meneguhkan tentang pentingnya tauhid dan pengenalan diri.
Peristiwa itu mengingatkan kita bahwa dunia ini rapuh dan tidak layak kita jadikan tujuan utama.
_______________
Ilmu tauhid itu seperti cermin. Jika cermin bersih dan jernih, kita dapat melihat kotoran di wajah kita. Demikian pula dengan tauhid: semakin bersih tauhid kita, semakin tampak dosa dan kekurangan diri kita.
Para sahabat mampu mengatur kehidupan mereka karena mereka mengetahui kadar dirinya. Maka janganlah kita terpedaya oleh kehidupan dunia. Dunia harus kita isi dengan bekal akhirat.
Apa itu Zuhud dan Wara‘?
Ibnul Qayyim rahimahullah mendengar gurunya, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,
الزُّهْدُ تَرْكُ مَالاَ يَنْفَعُ فِي الآخِرَةِ وَالوَرَعُ : تَرْكُ مَا تَخَافُ ضَرَرَهُ فِي الآخِرَةِ
“Zuhud adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat untuk akhirat. Sedangkan wara‘ adalah meninggalkan sesuatu yang membawa mudarat di akhirat.”
Ibnul Qayyim rahimahullah lantas berkata, “Itulah pengertian zuhud dan wara‘ yang paling indah dan paling melingkupi.” (Madarij As-Salikin, 2:10)
Maka ukurannya bukan banyak atau sedikitnya dunia di tangan kita, tetapi sejauh mana dunia itu memengaruhi hati kita.
_______________
Di masa muda, kami pernah menjadi atlet dan meraih medali emas dalam lomba loncat indah. Dari sana kami belajar tentang taktik dan strategi.
Namun kini kita belajar bahwa bahkan dalam perkara mubah pun perlu dipertimbangkan: apakah ia mengantarkan kita kepada akhirat atau justru melalaikan kita?
Dalam kaidah fikih disebutkan:
– Perkara wajib dan sunnah tidak boleh kita tinggalkan; keduanya harus kita laksanakan (zuhud dan wara‘ tidak berlaku).
– Perkara haram dan makruh harus kita jauhi (di sinilah berlaku zuhud dan wara‘).
– Perkara mubah boleh kita tinggalkan jika tidak membawa manfaat bagi akhirat kita (hanya zuhud yang berlaku).
Tinggalkan perkara mubah yang tidak bernilai akhirat. Sudah banyak aib dalam diri kita, jangan kita tambah lagi.
Contohnya, seseorang bersepeda untuk olahraga, tetapi mengenakan pakaian yang membuka aurat. Setiap detiknya ia berada dalam dosa.
Maka jangan sampai aktivitas yang kita anggap sehat justru merusak akhirat kita.
Seorang guru yang baik tidak membuka pintu keburukan. Ia mendidik dan mengokohkan muridnya di atas perkara-perkara yang baik terlebih dahulu. Demikian pula kita, jangan membuka pintu keburukan bagi diri sendiri dan keluarga kita.
_______________
Tanda Seseorang Cinta Dunia
Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa tanda cinta dunia adalah ketika peristiwa dunia memengaruhi dan bahkan mengubah prinsip seseorang.
Adapun orang yang zuhud seperti musafir: ia merasa asing dan hanya mengambil seperlunya untuk sampai ke tujuan.
Maka jadilah kita seperti musafir, bukan seperti orang yang merasa menetap selamanya.
Dunia itu… susahnya membuat kita bingung, senangnya membuat kita lalai, sempitnya membuat kita mengeluh, dan lapangnya membuat kita melampaui batas.
Maka kita perlu terus mengoreksi hati kita.
Pada hakikatnya, kita ini seperti musafir. Kita singgah sebentar, mengambil bekal seperlunya, lalu kembali pulang. Sudah seharusnya kita mencintai akhirat.
Lihatlah guru-guru kita: ketika ada sesuatu yang viral, mereka tidak tergesa-gesa berkomentar. Mereka tetap fokus mengajar dan mengingatkan tentang akhirat. Maka kita pun hendaknya menjaga lisan dan perhatian kita.
Jika kita tahu atau tidak tahu suatu kabar, apa pengaruhnya bagi akhirat kita?
Tidak tahu pun tidak mengapa, selama itu bukan kewajiban. Janganlah kita terlalu kepo (ingin tahu) terhadap hal-hal yang tidak bermanfaat.
Setiap hari ada saja yang viral. Peristiwa di negeri yang jauh bisa membuat hati kita gelisah, padahal tidak ada manfaatnya bagi agama kita. Perkara seperti ini tidak ada habisnya, jika kita tidak membatasi diri.
Di majelis ilmu, marilah kita bertanya tentang hal-hal yang bermanfaat, seperti persoalan fikih dan sejenisnya. Jangan bertanya tentang fitnah dan isu-isu yang tidak jelas. Jangan kita masukkan bibit penyakit ke dalam hati saudara-saudara kita.
Bulan Ramadan hendaknya kita atur dengan sebaik-baiknya. Waktu harus kita kelola dengan bijak, karena kita adalah hamba yang lemah, penuntut ilmu yang sedang menyiapkan bekal, dan musafir yang sedang menuju kampung akhirat.
Sadarlah sebelum terlambat!